Postingan

Puisi Perang Dunia II

 01 September 1939 Itulah awal dimana bencana dimulai Bencana yang membuat manusia saling membenci Jerman yang penuh dengan kebencian lah yang memulai semua ini Pasukan Jerman dan porosnya menyerang kedamaian di bumi ini Lebih cepat dari suara Membuat bumi dibanjiri darah dan air mata Yang datang membuat kejutan Membuat bumi menelan banyak korban Bersaing dalam kekuasaan Menjarah semua kedamaian Bumi ini menangis Menelan darah yang tak manis Hidup dan mati sudah menjadi taruhannya Mayat di sepanjang jalan berkorban demi tujuan nya Mereka yang menyerang karena dendam Membuat keadaan semakin mencekam Tiada yang mau mengalah Tiada yang ingin kalah Kedamaian menjadi impian semua orang Semua sudah muak dengan perang 02 September 1945 Medan perang yang semakin sunyi sepi Menandakan perang yang telah berhenti Kedamaian bukan lagi sebuah khayalan Semua orang menyambut dengan senyuman Kedamaian yang telah lama dinanti Inilah akhir perang hidup dan mati Oleh: Muhammad Rifai Iskandar Yunianto...

Sejarah Kerajaan-kerajaan maritim di indonesia pada masa hindu buddha

Gambar
KERAJAAN TARUMANEGARA Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia setelah Kerajaan Kutai. Kerajaan Tarumanegara berasal dari dua kata, yaitu  taruma  dan  negara . Taruma ialah tarum atau nila, merupakan sungai yang membelah Jawa Barat, yakni Sungai Citarum. Sedangkan negara berarti kerajaan atau negara. Kerjaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi di tepi Sungai Citarum, Kabupaten Lebak, Banten. Rajadirajaguru Jayasingawarman merupakan seorang Maharesi atau Pendeta dari Salankayana, India. Konon, Raja Jayasingawarman berhasil meloloskan diri dari musuh ke Nusantara karena kerajaan tempat asalnya mengalami serangan secara terus menerus oleh kerajaan Manggada. Sehingga, pada masa pengasingannya Jayasingawarman mendirikan kerajaan baru, yang diberi nama Kerajaan Tarumanegara. Masa keruntuhan Kerajaan Tarumanegara tidak diketahui secara terperinci. Bahkan, dalam prasasti hanya tertuliskan nama Raja...