RESENSI_BUKU_KISAH PANCASILA
NAMA : MUHAMMAD RIFAI ISKANDAR YUNIANTO (25)
KELAS : XI IPS 1
A. IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Kisah Pancasila
Jenis buku : Non Fiksi
Disusun oleh : Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila
Jumlah Halaman : IV + 97 Halaman
Terbit : 2017
B. SINOPSIS
Pancasila di Ruang Kelas Kita
Namanya Garuda Pancasila. Apabila kita buka buku pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, akan kita temukan bahwa jumlah bulu sang garuda mencerminkan sejarah penting bangsa Indonesia. 17 helai bulu di tiap-tiap sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 bulu di pangkal ekor dan 45 helai bulu di leher. Kalau kita deretkan angka-angka itu, hasilnya adalah 17-8-1945.
Itulah hari proklamasi kita, 17 Agustus 1945, tahun dimulainya kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Jadi sang burung yang bernama Garuda Pancasila itu adalah perlambang dari bangsa kita seluruhnya. Kita adalah bangsa Indonesia yang merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kita adalah burung garuda yang gagah dan cemerlang itu. Kita adalah bangsa muda yang belum lama merdeka dan dengan penuh harap menatap masa depan.
Kita tidak takut berhadapan dengan dunia karena kita terdiri dari beragam etnis, agama dan pandangan hidup. Kita tidak takut bersanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia karena kita kaya akan perbedaan. Kita berbeda-beda tapi tetap satu juga. Itulah semboyan negara kita, yang direntangkan sang garuda dalam sehelai kain putih: “Bhinneka Tunggal Ika”.
Kita adalah bangsa merdeka. Jiwa kita adalah jiwa garuda yang berani terbang melanglang buana. Keberanian itu berlandas pada apa yang ada di dada. Pada dada garuda itu, kita temukan perisai berlambangkan bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng serta setangkai padi dan kapas.
Lambang-lambang pada perisai sang garuda itu adalah perlambang dari dasar negara kita, lima sila dalam Pancasila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
o Inspirasi Pancasila Dalam Pengasingan
Menuju Ende
Pada 1934, Bung Karno beserta keluarga—istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, serta mertuanya Ibu Amsi—naik kapal Van Riebeeck menuju tempat pembuangannya, Kota Ende, Flores. Sekarang, kota ini termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jika sekali waktu berkunjung ke Pulau Flores, khususnya Kota Ende, sempatkanlah diri mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di sana yang masih dijaga dengan tekun oleh masyarakat setempat. Letaknya di Jalan Perwira Nusa Tenggara Timur. Di dalam rumah kecil sederhana itu, masih tersimpan dengan baik barang-barang peninggalan Bung Karno seperti foto keluarga, pena serta perabotan rumah yang dipakai Bung Karno beserta keluarga saat itu.
Menyepi di Pengasingan
Pada 14 Januari 1934, kapal Van Riebeeck berlabuh di pelabuhan kecil Kota Ende yang juga kecil. Kesenyapan kota itu menyambut kedatangan Sang Singa Podium dari Jawa. Bung Karno tentu saja merasa kesepian. Bisa kita bayangkan, di atas geladak kapal, ia menyaksikan kota yang ketika itu hanya berpenduduk 5.000 orang. Atap-atap rumah hanya muncul satu dua saja di balik pepohonan khas daerah tropis. Berbeda dengan Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda, yang hampir setiap akhir pekan didatangi Bung Karno ketika masih jadi orang bebas di Bandung.
Di Bawah Lindungan Pohon Sukun
Di Kota Ende yang sepi, selain melakukan kegiatan- kegiatan yang sudah dibicarakan tadi, Bung Karno kerap menyepi di pinggir pantai. Kota Ende terletak di bagian selatan Pulau Flores. Dengan demikian, kota itu berhadapan langsung dengan Laut Sawu. Sejauh mata memandang dari pinggir pantai Kota Ende, kita hanya menemukan lautan semata.
Ada satu-dua pulau kecil terlihat di kejauhan, tetapi di sepanjang cakrawala langit bertemu dengan lautan lepas. Inilah alam yang menemani Bung Karno semasa pembuangannya di Ende. Pembuangan ke Ende adalah pembuangan pertama yang dialami Bung Karno. Sebelumnya, ia memang pernah dihukum oleh pemerintah kolonial, namun sekadar tahanan penjara di kota tempat ia menjalankan aktivitas politik, yaitu kota Bandung.
Barulah di Ende Bung Karno merasakan sebuah hukuman yang lebih kejam, hukuman pembuangan di tanah kolonial. Untuk pejuang kemerdekaan masa itu, hukuman pengasingan ini termasuk hukuman yang tinggi, dikenakan untuk mereka yang aktivitas politiknya dianggap benar-benar membahayakan keamanan dan ketertiban negeri jajahan.
Selamat Tinggal Ende
Setelah sekitar empat tahun menetap di Ende, oleh keputusan pemerintah kolonial Bung Karno lantas dipindahkan Bengkulu. Pemerintah Belanda sudah mencium sepak terjang Bung Karno di kota itu yang bukannya menyerah, melainkan menemukkan celah-celah baru untuk melanjutkan perjuangannya. Pada April 1938, barang-barang Bung Karno yang penting sudah mulai dipak dalam peti, siap diberangkatkan ke Bengkulu.
Hal ini tampak pada surat Bung Karno untuk redaktur Majalah Pujangga Baru bertanggal 20 April 1938. Ketika itu, redaktur Pujangga Baru meminta Bung Karno untuk menulis perihal arsitektur Indonesia untuk media tersebut. Bung Karno tak bisa memenuhinya lantaran buku-buku rujukannya sudah masuk ke dalam peti. Ia mesti meninggalkan Nusa Bunga yang semula asing tapi kini telah jadi akrab baginya.
o Lahirnya Pancasila: 1 Juni 1945
Pagi hari, 1 Juni 1945. Empat hari berselang setelah siding Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibuka. Seorang insinyur berusia 43 tahun maju ke mimbar. Di sampingnya duduk pimpinan sidang, Dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang dokter dan aktivis senior yang disegani dari era Boedi Oetomo. Di hadapannya berbaris lima deret meja di sebelah kiri yang berhadapan dengan lima deret meja di sebelah kanan. Pada kedua sisi deretan meja itu, duduk tokoh-tokoh terkemuka se-Indonesia, kaum cerdik pandai yang menjadi perwakilan dari berbagai pergerakan rakyat Indonesia.
Latar Persidangan BPUPKI
Pemerintahan pendudukan Jepang memang berjanji akan memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia sejak 7 September 1944. Janji ini merupakan bagian dari taktik penjajah Jepang untuk mendorong bangsa Indonesia berperang melawan pasukan Sekutu yang diperkirakan akan menyerbu Nusantara untuk mengusir Jepang dan mengembalikan pemerintahan jajahan Hindia Belanda. Karena hendak memanfaatkan semangat perjuangan bangsa Indonesia inilah, Perdana Menteri Jepang, Jenderal Kuniaki Koiso mengumumkan pada tanggal 7 September 1944 bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Maka dibentuklah BPUPKI pada tanggal 29 April 1945 dengan tugas menyusun rancangan Undang-Undang Dasar.
“Negara Indonesia Ketiga” versi Mr. Muhammad Yamin
Mr. Muhammad Yamin, ahli hukum asal Sawahlunto itu mengawali sesi pertama pada hari Selasa, 29 Mei 1945, pukul 11.00 dengan uraian sejarah kerajaan-kerajaan kuno Nusantara, paparan tentang beragam teori politik dan ditutup dengan sebuah sajak enam bait yang berbunga-bunga berjudul Republik Indonesia.
Sebagai dasar negara, ia mengusulkan diadopsinya kelima prinsip berikut:
1. Peri Kebangsaan.
2. Peri Kemanusiaan.
3. Peri Ketuhanan.
4. Peri Kerakyatan.
5. Kesejahteraan Rakyat.
“Negara Totaliter” versi Dr. Soepomo
Pada tanggal 31 Mei 1945, giliran Dr. Soepomo, sang ahli hukum adat Jawa, untuk menyampaikan pikirannya tentang dasar negara. Setelah memaparkan berbagai teori tentang negara dari para pemikir Eropa, Soepomo menegaskan bahwa negara Indonesia merdeka hendaknya disusun atas dasar sifat khas masyarakat Indonesia sendiri. Negara Indonesia merdeka tidak seharusnya dibangun dengan menjiplak masyarakat di luar Nusantara. Corak dan bentuk negara itu harus disesuaikan dengan perikehidupan masyarakat yang nyata.
“Negara Pancasila” versi Ir. Soekarno
Maka kembalilah kita pada 1 Juni 1945. Sebuah pagi di hari Jumat yang cerah. Insinyur kita telah memulai pidatonya. Semua mata tertuju pada sosoknya yang berdiri gagah di depan mimbar. Bung Karno, insinyur negara Indonesia merdeka itu, mengawali pidatonya dengan sebuah pertanyaan sederhana: Apa itu “kemerdekaan”? Apa yang dimaksud dengan kata “merdeka”?
Waktu Ibnu Saud memerdekakan Arab Saudi, kata Bung Karno, 80% dari rakyatnya masih hidup dalam alam kegelapan. Konon pada suatu hari mobil Ibnu Saud mau diberi makan gandum oleh penduduk Saudi Arabia karena mereka belum pernah melihat mobil dan mengiranya sejenis onta. Dengan kemerdekaan yang baru dinyatakannya itu, barulah bangsa Arab Saudi belajar membaca-tulis, bercocok tanam, hidup secara teratur.
Seputar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Mengapa bentuk Pancasila yang dicetuskan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 bereda dari Pancasila yang kita kenali sekarang? Hal ini ada sejarahnya. Oleh karena pada masa persidangan pertama BPUPKI (28 Mei – 1 Juni 1945) belum tercapai kata sepakat tentang dasar negara, maka dibentuklah Panitia Sembilan yang bertugas merampungkan naskah mengenai dasar negara yang akan menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Ketua dari Panitia Sembilan ini tak lain adalah Soekarno. Melalui rapat-rapat khusus yang mereka selenggarakan, Panitia Sembilan ini menyunting rumusan Pancasila Soekarno dan mengubah urut- urutan penyebutannya. Pada tanggal 22 Juni 1945, tercapailah kesepakatan di antara sembilan orang itu mengenai rumusan dasar negara.
o Pancasila: Dari Merdeka Hingga Kini
Pancasila di Masa Revolusi Fisik
Sebagai dasar negara, Pancasila mengalami masa-masa sulit pada periode awal Indonesia merdeka. Kehendak Belanda untuk kembali menguasai Indonesia melalui macam-macam perang di berbagai daerah, mempersulit rakyat Indonesia membangun negara dan pemerintahannya. Demikian pula dengan situasi ekonomi dan politik di dalam negeri sendiri yang masih kacau. Sehingga konsentrasi dari pemerintah pada masa itu adalah banyak berkait dengan hal Pengakuan Kedaulatan Indonesia. Dengan kata lain, bangsa Indonesia sudah menyatakan kemerdekaannya, sudah menyatakan dasar bernegara dan konstitusinya, tetapi ruang untuk bernegaranya selalu diganggu oleh Belanda.
Pancasila di Masa Orde Baru
Pada tahun 1968, Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 1968 yang menjadi panduan dalam mengucapkan Pancasila sebagai dasar negara, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila di Era Kekinian
Era Reformasi yang diawali dengan kejatuhan Soeharto, memberikan kesempatan sekali lagi untuk pelaksanaan Pancasila sebagaimana aslinya, yakni sebagai dasar negara merdeka yang hendak melenyapkan penjajahan di muka bumi. Semangat asli Pancasila ini terus coba dimaknai kembali oleh pemerintah- pemerintah yang jatuh bangun selama periode awal Reformasi. Proses pemaknaan ini mencapai titik terang dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mendasarkan program kerjanya pada prinsip-prinsip politik Soekarno.
o Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu!
Pada tahun 1956, seorang komponis muda bernama Sudharnoto menggubah lagu berjudul Mars Pancasila. Setiap anak sekolah di Indonesia menyanyikannya, bahkan sampai sekarang. Masyarakat saat ini mengenalnya sebagai lagu Garuda Pancasila.
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Maka sekarang bukan waktunya lagi membahas tepat atau tidaknya permufakatan kebangsaan kita, bertanya-tanya soal tepat-tidaknya Pancasila, melainkan menagih kesetiaan kita pada permufakatan itu. Sekarang sudah bukan waktunya bertanya- tanya apakah Pancasila relevan atau tidak. 100.000 jiwa sudah gugur selama Revolusi Fisik 1945-1949—100.000 jiwa yang terdiri dari tentara, laskar, pemuda, rakyat jelata, laki-laki dan perempuan, dari beragam etnis dan agama. Mereka gugur di atas bumi dan di bawah langitnya Pancasila 1 Juni 1945. Sekarang sudah bukan waktunya bertanya-tanya apakah kematian 100.000 rakyat itu punya arti. Sekarang adalah waktunya menghidupi janji kita pada yang mati, bersetia pada permufakatan kebangsaan kita, Pancasila
C. KELEBIHAN
Ada berbagai hal yang dapat di ulas dalam buku ini, baik kelebihan ataupun kekurangan semua mempunyai porsinya masing-masing. Ada beberapa kelebihan dalam buku ini. Sambutan yang ada di dalam buku ini menjadikan buku ini berbeda dengan yang lainnya, sambutan dalam buku ini menjadi pendahuluan untuk buku ini. Biasanya hanya ada kata pengantar kali ini di ganti dengan sambutan, itulah yang sedikit membedakan dari buku lainnya.
Buku ini juga di perbanyak dengan gambar sehingga kita dapat membayangkan rupanya saat itu. Banyaknya gambar dalam buku ini juga mempunyai arti penting, dengan gambar kita dapat mengetahui informasinya lebih jelas dan detail. Kata-kata yang di pakai di buku ini juga lebih sederhana walaupun ada beberapa kata yang mungkin tidak bisa dimengerti. Sumber-sumber yang diambil untuk pembuatan buku ini juga dituliskan dengan baik.
Uraian didalam buku ini juga sangat detail. Yang membuat buku ini banyak informasi penting lainnya. Hal ini sangat penting apabila kita ingin memperdalam pengetahuan kita tentang pancasila karena informasi-informasi kecilnya pun ada dalam buku ini.
D. KEKURANGAN
Kekurangan dari buku ini adalah tulisan dalam buku ini masih lebih banyak di bandingkan dengan gambar. Buku ini seperti penuh dengan tulisan, seharusnya gambar dengan tulisan lebih seimbang agar kita tidak bosan ketika membaca buku ini. Kekurangan lainnya itu ada di kerapihan font dan editingnya,Editing dalam buku ini belum serapih buku lainnya.
Tidak ada hal menarik yang membuat buku ini menonjol. Dengan ketidakrapihan buku ini menjadikan buku ini seperti buku yang biasa saja. Dalam buku ini hanya ada tulisan judul yang ditebalkan dan selainnya sama. Maka itu buku ini lebih terlihat sederhana. Selain itu masih ada beberapa kata yang sulit dimengerti dalam buku ini, masih ada kata-kata tinggi yang mungkin bagi sebagian orang tidak memahaminya. Halaman dari buku ini juga terlalu banyak, jadi sebelum kita membacanya pasti kita sudah malas duluan karena melihat halamannya yang sangat panjang
E. KESIMPULAN
Buku Kisah Pancasila tersusun dari 5 bab membahas tentang kisah Pancasila beserta 5 lampiran. Dalam buku ini urutan peristiwa yang terjadi dijelaskan sangat detail dan lengkap. Banyak informasi yang mungkin kita belum ketahui menjadi tau. Gambar-gambar yang disajikan pun mendukung pelengkapan informasi dalam buku ini. Tidak hanya peristiwanya saja, tetapi buku ini juga mengajarkan kita untuk selalu menjadikan pancasila sebagai landasan dalam bertingkah dan sebagainya. Kekurangan dari buku ini adalah tulisan dalam buku ini masih lebih banyak di bandingkan dengan gambar
Buku ini menyajikan informasi yang beragam. Dengan membaca buku ini kita dapat meningkatkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat baik dari segi akademik maupun non-akademik. Walaupun bagi orang-orang awam buku ini terlalu singkat, tetapi bagi orang yang kurang membaca buku ini sudah terlalu panjang.
Komentar
Posting Komentar